Minggu, 24 Juli 2016

Jatuh Cinta Yang Salah



Sahabat adalah serangkaian jalian kasih
Dikala jatuh dia akan datang untuk mengangkatknya
dengan kedua tangannya.
Selalu mengharapkan kebahagiaan yang terurai
Di setiap serat-serat persahabatan
Bagiku sahabat adalah sebagian nafas yang aku punya
Walau terkadang mereka sering pergi meninggalkanku…
Tapi, mereka telah tergores di tinta jalan hidupku….
Sahabat tak pernah terurai oleh massa…
Dan tak kan pernah sirna hanya karena kebencian
Meskipun kadang tak sependapat
Namun selamanya akan tetap menjadi sahabat….

               Dulu, aku memiliki kehidupan yang sangat suram di masa kecilku. Aku nyaris tak punya teman ketika aku duduk di bangku SD dulu. Setiap kali aku mencoba untuk mendekati mereka, mereka malah menjauhi dariku. Padahal aku berusaha untuk bisa berteman dengan mereka, dulu aku menekan rasa maluku untuk mendekati mereka. Namun, itu semua sia-sia. Mereka menganggap suaraku hanyalah gemuruh yang lewat dan akan menghilang setelah suasana menjadi cerah. Mereka bilang padaku, aku hanyalah anak yang jelek, cupu’, dekil yang hanya dianggap sampah. Aku akui aku jelek dan cupu’. Namun, aku ga’ dekil. Tapi itu adalah presepsi orang. Dan aku harus terima itu. Aku hanya tak ingin membuat masalah.

               Hingga di suatu ketika, ada seseorang yang datang di kehidupanku. Sahabat pertama yang kumilki, dialah Arlen. Dia sangat baik padaku. Setiap kali aku menagis karena ejekkan teman-temanku, dialah yang menenangkanku. Meskipun kami masih kecil pada saat itu dan masih di anggap anak ingusan, namun bagiku dia adalalah malaikat berwujud manusia yang akan selalu menjagaku. Katika aku bersamanya, akhirnya banyak teman-teman yang aku punya. Aku akui, ketampanan Arlenlah yang membuat mereka mau berteman denganku. Aku sangat bahagia. Arlen selalu mengatakan padaku untuk tidak menangis di kala aku di ejek dengan sebutan mata kodok. Dia selalu bilang mataku ini indah seperti mata bidadari.

               Hingga di suatu ketika, Arlen pergi meninggalkanku. Dia pindah di kota Ambon. Rasanya sulit bagiku menghadapi semua ini sendirian. Teman-teman yang sempat ada, kini menghilang sejak kepergiannya Arlen. Dan kini aku harus memulainya lagi dari awal .

               Hari berganti hari. Tanpa terasa tahun-tahun pun terlewatkan. Ternyata 8 tahun sudah aku dan Arlen tak pernah bertemu. Bahkan sejak kepergiannya di hari itu, dia serasa benar-benar menghilang tanpa ada sepatah katapun dan tanpa meninggalkan jejak. Aku hanya bisa menangis ketika tahu dia sudah tidak ada di sisiku lagi. Begitu sulit menghadapi teman-teman yang suka memilah-milah teman. Namun, aku tahu aku akan mendapatkan sahabat yang baik di suatu hari nanti. Dan aku tahu dengan kekuatan cinta yang aku milki, semuanya akan terlihat mudah untuk dihadapi.

               Ya,,,, ternyata semuanya telah terjawab, aku sekarang memilki banyak teman dan bahkan lebih dari yang aku bayangkan. Aku tahu Allah akan memberi jalan kepada orang yang mau berusaha untuk berubah. Dan itu terbukti di kehidupanku….
               Di tahun yang ke-8, di pertengahan tanggal bulan Desember lebih tepatnya 16 Desember 2008, Di kala itu aku masih duduk di bangku SMA. aku mendapatkan nomor ponselnya Arlen dari salah satu sahabatku Antoni. Kebetulan dia jalan-jalan ke ambon, dan bertemu dengan Arlen. Dari situlah Arlen menitipkan nomor ponselnya kepada Antoni untukku. tanggal 17 Desember 2008 aku menghubungi Arlen. Namun, dia tak pernah membals SMSku. Besoknya aku SMS dia lagi, namun tak ada sms balasan darinya. Sejak sat itu aku pun tidak menghubunginya lagi. Aku berfikir, Antoni cuman ingin mempermainkanku. Di hari yang ke-6, tepatnya tanggal 23 Desember 2008, aku di SMS sama Arlen. Itulah kali pertama aku dan Arlen berhubungan lewat komunikasi telpon.
               Ya Allah… betapa senangnya hatiku saat itu. Aku hanya bisa terdiam mendengar kelembutan suaranya. Suaranya masih terdengar seperti kami masih SD dulu, benar-benar lembut. Hingga disuatu hari aku ngirim sms ke dia, namun dia tak membalasnya tapi dibalas sama temannya yang bernama Alvin. Dari situlah akhirnya aku berteman dengan Alvin. Ternyata Arlen sengaja membiarkan temannya yang membalas SMSku. Dia ingin mendekatkanku dengan temannya Alvin. Sejujurnya hari itu aku agak kecewa, tapi ternyata Alvin adalah orang yang baik yang memilki banyak kesamaan denganku. Mulai dari aktivitas sampai dengan hal yang kami sukai. Dan itu membuatku tarasa nyambung dengannya.
               Semuanya masih berjalan dengan baik. Aku dan Alvin masih tetap berteman baik. Dia selalu mengirim SMS disaat waktu yang tepat. Sedangkan Arlen menghilang tanpa jejak. Aku sudah merasa nyaman dengan Alvin. Namun, di saat Alvin akan menyatakan persaanya padaku, malah aku menerima Arlen sebagai pacarku. Sungguh aku telah menyakiti persaan Alvin.
               Sejak saat itu, Alvin pun menghilang dari kehidupanku. SMS yang biasanya ku terima dari dia setiap hari, kini tak ada lagi. Mungkin dia marah padaku. Itulah awal persahabatnku hancur.
               Seiring berjalannya waktu, aku pun semakin mengenal Arlen. Dia tak seperti Arlen yang kumilki seperti dahulu. Lingkungan telah merubahnya. Setiap kali dia ketemu denganku, dia selalu menceritakan mantan-mantannya padaku. Yang lebih parahnya lagi dia bilang padaku kalau dia masih mencintai mantannya. Dan lebih kacaunya lagi dia menyukai sahabatku Regina. Ya ampun…. Aku tak bisa berkata apapun. Aku hanya bisa tersenyum ketika dia mengatakan hal itu padaku. Entahlah apa yang dia inginkan. Yang pastinya itu membuatku sakit mendengarnya. Dia tidak memikirkan persaanku yang saat itu masih menjadi pacarnya.
               Aku berusaha bersabar, setiap kali dia curhat tentang masa lalunya aku selalu merubah statusku yang tadinya pacar, menjadi sahabat setia yang akan mendengarkan semua yang ia katakan. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang punya perasaan. Aku tak kuat mendengar pacarku selalu mengungkit-ngungkit mantan pacar yang masih dicintainya. Kalaupun aku bertahan, entah sampai kapan aku bisa bertahan menyembunyikan persaanku yang hancur setiap kali dia menceritakan hal itu padaku?
              

Ya Allah… aku tak kuat menerima semua ini. Rasanya sakiiiit sekali…. Hingga di suatu hari aku ngirim sms dia, namun nomor ponsel yang ku gunakan adalah nomor ponselku yang baru. Dia membalas SMS ku. Namun di beberapa bulan berikutnya, aku tak pernah mengSMSnya lagi. Dan dia juga tak pernah mengSMSku.
Hingga di suatu hari, dia SMSan dengan fitria temanku, dan bertanya kepada fitria kenapa aku ga’ pernah lagi menghubunginya? Dan fitria menyampaikan hal itu padaku. Dua hari selepas itu, aku pun mengirim SMS padanya. Dan dia membalas SMS ku juga dengan bertanya siapa aku. Aku menyuruhnya menebak.

               Awalanya tebakannya membuatku GR setengah mati. Dia berkata kalau akau adalah pacarnya yang jauh namun dekat di hati. “hah,,,,melegakan, ternyata Arlen masih mengingatku,” pikirku dalam hati.
               Ternyata aku salah menduga, orang yang dia bilang pacar yang jauh namun dekat di hati adalah bukan aku tapi pacarnya yang lain Dea Yesika. Ya Ampun,,,, aku hanya berusa mengatur nafas untuk membuat air mataku tak boleh terjatuh. Namun apa daya, aku adalah manusia biasa yang punya persaan dan sore itu air mataku akhirnya jatuh juga. Ternyata selam ini, dia tak pernah save nomor baruku. Aku hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.
               Setelah mengetahui kebenarannya, aku pun mengSMSnya kalau yang dia tebak adalah salah. Ternyata dia tak pernah mengingatku. Mungkin selama ini aku keGRan dengan apapun yang dia katakan padaku di awal sebelum kami berdua berpacaran. Cinta telah membutakan mata hatiku. Sampai-sampai aku tak bisa melihat ketulusan dari orang yang menyayangiku. Dan Aku tak bisa membedakan yang mana kebohongan dan yang mana kebenaran.
               Setelah dia tahu kalau orang yang dia tebak adalah salah, dia pun mengirim SMS ke fitria dan meminta nomorku. Kamu tahu, setelah dia tahu kalau aku adalah orang yang SMSan dengan dia tadi, dia malah meminta maaf kepada fitria bukan padaku. Aku heran, dia tak bisa membedakan yang mana orang yang dia sakiti dan yang mana orang yang harusnya di mintai maaf.
               Tapi, tak apalah. Lagian aku bukan hakim yang harus menuntut dia untuk mengucapkan maaf padaku. Bagiku Arlen yang ku milki bukanlah Arlen yang ada padaku sekarang, tapi yang kumiliki hanyalah Arlen yang dulu ketika kita masih di bangku Sekolah Dasar. Aku tak membencinya, aku hanya kecewa dengan sikapnya yang sekarang. Waktu telah merubah dia menjadi orang lain. Aku tak bisa menyalahkan siapapun. Yang pastinya hidup ku akan terus berjalan meskipun tanpa Arlen.
               Mungkin benar sahabat akan selamaya menjadi sahabat. Namun, tak sedikit sahabat bisa menjadi cinta. Aku mengerti ini adalah kesalahanku dengan Arlen. karena di dalam hubungan yang kami jalani, ada seseorang yang kami sakiti. Dia adalah Alvin. “Maafkan aku sahabatku…!!!! Aku berharap kita bisa bertemu lagi dan bisa bersahabat seperti dahulu lagi.
Cinta Is Great
Semua akan berakhir pada waktunya
Tak akan ada yang tersisa
Semua yang ku miliki akan hilang
Yang tersisa hanyalah cinta
Cinta,,,,,
Entahlah itu benar ada atau tidak?
Kalaupun banar ada, mengapa cepat sekali berubah?
Ketika ku mencoba untuk percaya
Yang ada hanya dusta
Ya, dusta!
Mungkinkah aku jatuh cinta pada orang yang salah?
Atau mungkin aku yang terlau bodoh dalam mengenal cinta?
Namun, bagiku semua itu tak begitu berarti
Cinta memang ada untuk orang yang bisa merasakannya
Dan cinta juga bisa tak ada bagi orang yang tak pernah merasakannya
Semua orang bisa berubah karena cinta.
Namun tak sedikit orang orang yang mendustainya
Hah,,, cinta memang gila.
               Dan kini aku telah memaafkan semua yang telah terjadi. Aku tak bisa membencinya hanya karena dia pernah menyakiti hatiku. Dia sama sepertiku, dia hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Selama 10 tahun berakhir, di tahun yang ke-11 aku baru ketemu lagi dengan Arlen, ketika itu aku berencana pulang kampung. dulu kami pacaran jarak jauh. Ternyata fellingku benar, dia telah berubah menjadi Arlen yang tak ku kenal. Namun, dengan perubahnnya itu, tak kan membuatku menghapusnya menjadi sahabat pertamaku.

               Pertemuan kami terjadi begitu singkat. Ketika dia melihatku, dia hanya meminta maaf atas semua yang telah dilakukannya padaku di waktu dulu. Sebagai seorang sahabat, aku memaafkannya. Karena aku tahu sahabat takkan pernah terubah hanya karena kebencian. Sejak saat itu, aku pun membuka lembaran baru bersama Arlen dengan memulai persahabatan yang dulu sempat hilang. Aku memang menyayanginya, namun rasa sayang itu tak lebih dari rasa sayangku sebagai seorang sahabat. Kesalahan di waktu dulu takkan terulang kembali.

               Sejak saat itu, kami tak bertemu lagi. Karena aku harus melanjutkan studyku di Makassar. Namun, bukan berarti kami kehilangan komunikasi. Sesekali dia mengSMSku atapun sebaliknya. Aku akan menjalin persahabatan ini dengan rasa sayang, kesaling hormatian, dan Saling menasehati tanpa harus mendustainya. Aku tahu, bila aku memulai dengan kebohongan, maka semuanya akan berakhir dengan kepahitan. Aku berharap dia bisa mengerti dengan persahabatan yang kami jalani saat ini.
THE END

Sahabat Jadi Cinta



Pada suatu hari saat aku duduk di bangku sudut sekolah, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“Hey…. !!! lagi ngapain” ucap seseorang itu sambil menepuk pundakku.
Saat ku menoleh kebelakang ternyata dia sahabatku Veranda. Veranda itu orangnya cantik, ramah, dan pintar. Aku lebih suka memanggilnya Ve karna singkat, padat, dan mudah di ingat, hehe.
“Lagi baca-baca aja” jawabku.
“Boleh ikut duduk disini ga ?” tanya Ve.
“Boleh lah, sini-sini” jawabku.
“Eh… Rizal, aku mau minta pendapat kamu nih, boleh ga ?” tanya ia lagi.
“Boleh…, emang soal apaan ?” tanyaku balik.
“Gini nih…, tadi ada cowok nembak aku, tapi belum sempet aku jawab sih…, aku mau minta pendapat dari kamu zal”ucap Ve.
Aku pun heran, kenapa Ve meminta pendapat dariku, lalu akupun balik bertanya kepada Ve.
“Emang siapa cowok itu ?” tanyaku.
“Revan… orangnya” jawab Ve.
Ve menjawab dengan wajah gembira, tanpa pikir panjang aku pun langsung berkata.
“Terima aja, toh dia orangnya ganteng, pujaan cewek disekolah ini lagi.
“Yang bener zal…?” tanya Ve dengan muka serius.
“Itu kan pendapat aku, kedepannya terserah kamu, aku Cuma ngasih pendapat aja” ucapku.
“Ya udah deh…. Aku terima aja, makasih ya zal” ucap Ve, sembari meninggalkan ku.
Akhirnya Ve pacaran dengan cowok itu. Awalnya aku nggak merasakan apa-apa, tapi setelah beberapa hari Ve pacaran dengan cowok itu, aku merasa kesepian. Rasanya aku kehilangan sesuatu, biasanya aku selalu bersama Ve, tapi sekarang tidak lagi. Memang sih Ve itu cewek yang cantik, manis, ramah, pintar, dan selalu menjadi rebutan cowok-cowok di SMA, tapi ia adalah sahabatku yang baik dan selalu menemaniku.
Bell istirahat pun berbunyi “teet…….. teet………”, aku pun berkehendak pergi ke kantin. Ketika aku berjalan ke kantin terlihat Ve sedang bersama dengan cowoknya. Jantungku pun berdetak kencang, timbul rasa cemburu dihatiku, aku pun bingung kenapa aku bisa seperti ini. Kemudian aku duduk di pojok kantin dengan ditemani segelas capuchino. Tidak lama kemudian Ve datang bersama cowoknya.
“Ah…. Sialan kenapa mereka datang kemari?” ucapku dalam hati.
Ve tidak menegurku dia hanya melihat saja, begitu pun dengan ku tidak menegurnya. Kemudian aku pergi dari kantin dengan wajah kusam, mungkin aku telah jatuh cinta dengannya. Setelah itu aku pun tidak pernah bertemu lagi dengan Ve.
*Tiga bulan kemudian………
Pada suatu malam, ketika aku sedang menonton tv tiba-tiba handphone ku bergetar, saat ku lihat ternyata ada pesan dari Ve. “tumben-tumbenan dia ngesms” ucaku dalam hati. Saat ku buka isi pesan dari Ve isinya “Rizal…., besok aku mau cerita nih sama kamu, aku tunggu di taman yang biasa jam 5sore”.
*ke esokan harinya.
Sabtu sore ini terlihat langit masih cerah, aku pun bergegas pergi ketaman dan menemui Ve. Sesampainya ditaman aku melihat Ve sedang berdiri dibawah pohon sendirian, dan akupun menemuinya.
“Hay… Ve udah lama nunggu ya?” tanya ku.
“Eh… kamu zal, engga kok aku juga baru dateng” jawabnya dengan wajah sedih.
“lah kok mukanya sedih gitu, emangnya mau cerita apaan?” tanyaku dengan wajah heran.
 “Aku sedih zal…., cowok aku selingkuh” Ve menjawab dengan nafas yang tersengat-sengat dan memeluk tubuhku sembari meneteskan air mata.
“Udah…. Jangan nangis, jangan pikirkan cowok itu lagi, masih banyak kok cowok yang suka sama kamu, sekarang mendingan Ve pulang aja biar aku anter kamu ke rumah” kataku dengan harapan bisa mengambil hatinya.
“Ya sudah deh, makasih ya zal” jawab Ve tersenyum melihatku.
“Nah gitu dong, kalo seyum kan jadi cantik lagi” ucapku sambil menghapus sisa air mata di wajahnya.
Akupun mengantar ve kerumahnya, sesampainya di depan rumah Ve, ia pun berkata “Makasih ya zal, berkat kamu perasaan aku udah agak enakan, sekali lagi makasih ya zal” Ia pun langsung masuk sambil tersenyum padaku. Aku pun hanya membalas dengan senyuman dan segera pulang kerumah.
Setelah kejadian itu hubungan Ve denganku membaik bahkan lebih dari biasanya. Kami pun selalu bersama baik di sekolah maupun dirumah. Disaat semua kesenangan itu terjadi aku mendapat kabar bahwa orangtua ku akan dipindah tugaskan ke luar kota, aku pun terpaksa harus mengikuti orangtua ku. Aku tidak masuk sekolah beberapa hari, dan aku juga tidak memberitahu kepada Ve soal kepindahanku ini. Aku berinisiatif menulis sepucuk surat kepadanya, yang akan ku titipkan kepada satpam rumahku.
Hari ini adalah kepindahanku aku pun menitipkan surat untuk Ve kepada satpam rumahku. Hari ini Ve mencariku di sekolah, dia tidak menemukanku disekolah, malam harinya Ve pergi kerumahku.
“Permisi pak….!!! Rizalnya ada nggak?” tanya Ve.
“Den Rizal nya baru aja pergi neng”
“Pergi kemana pak? Kok nggak bilang-bilang”
“Den Rizal pindah ke luar kota ke Medan kalo ga salah, orang tuanya dipindah tugas, ini surat dari Den Rizal neng”
Ve langsung membaca isi surat itu.
Hay… Ve,
Maaf ya, mungkin saat kamu baca surat ini, aku udah nggak di sana lagi. Mulai sekarang aku pindah ke Medan karna orangtua ku dipindah tugaskan. Aku tahu, Kamu pasti sedih kan……, tapi apa boleh buat, mungkin kita nggak ditakdirkan bersama.
Sebenernya……, dari dulu Aku udah suka sama kamu, cuman aku nggak punya keberanian untuk diungkapin. Mungkin dengan kepergian ini Aku bisa ngelupain kamu, mudah-mudahan kamu bisa dapet sahabat baru yang lebih baik dari aku….
Rizal
Ve meneteskan air mata saat membaca surat ini, dan dengan segera mungkin Ve menyusul Rizal ke Bandara. Sesampainya di Bandara dia terlamabar pesawat yang ditumpangi Rizal sudah lepas landas. Dia menangis dan duduk dibangku yang terletak di ruang tunggu, beberapa saat kemudian seorang anak kecil pun datang dan memberikan kertas yang bertuliskan…..
“Pergi Ketaman Bandara Sekarang……!”
Ve langsung pergi ketaman bandara dengan tangisannya, kemudian ia terdiam sejenak. Sebuah alunan music yang romantis, taman yang bertaburan bunga dan lilin yang membentuk sebuah jalan terbentang dihadapan Ve. Dia melihat sebuah tanda panah yang menuju titik tengah taman tersebut, dia pun perlahan-lahan berjalan sambil menikmati musik tersebut. Setelah tiba ditengah taman, ia tidak menemukan apapun.
Kemudian terdengat, “Veranda…., ini Aku persembahkan buat kamu, jangan nangis lahi ya” Ve pun langsung menoleh kebelakang dan langsung memeluk aku.
“Iya, sekarang aku nggak akan nangis lagi kok, tapi kali kamu lepas pelukan ini, aku bakalan nangis lagi.”
Aku pun menjelaskan kepada Ve bahwa orangtuaku nggak jadi pindah karna pemindahannya di batalkan. Aku sangat senang, malam itu juga aku dapat menyatakan perasaanku pada Veranda dan akhirnya dia menerimaku menjadi pacarnya.

~SELESAI~

SAHABAT SEJATI



Di suatu sekolah ada 2 orang sahabat yang bernama Nadhifatul mubarokhah dengan Menik asia wati.Mereka bersahabat sejak kelas 7 smp dan sekarang mereka duduk di kelas 9. Suatu ketika ada anak baru yang berada di kelas mereka dia bernama Dewi ayu ambarwati. Dia dekat sekali dengan nadhifa sehingga menimbulkan konflik antara PERSAHABATAN nadhifa dengan menik. Menik merasa telah terabaikan oleh nadhifa, mereka sudah jarang mengobrol dan bercanda bersama.Ketika menik mengajak nadhifa berbicara, betapa kagetnya menik melihat sahabatnya itu tak menghiraukan omongannya. Sudah 2 hari menik mencoba mengajak bicara nadhifa tetapi tetap saja tak ada perubahan, dia tetap seperti itu ! Menik berfikir kalau ini semua ada hubungannya dengan Ambar. Lalu menik pun mencari tau dan bertanya kepada ambar saat dia sedang di toilet :
            “heii ambar, gue mau tanya sama loe ? apa loe dalang dari sifat nadhifa yang begitu dingin sama gue ?”
            “heii ! kok loe nuduh gue seperti itu sih ?”
            “iya karena sejak kehadiran loe di sekolah ini dan loe akrab sama dhifa ! dia jadi menghindar dari gue !”
            “hahahahaha sukurin !” katanya
            “hehh kurang ajar banget loe !! ngomong apaan loe ke dia sampai-sampai dia ngejauh dari gue ?”
            “hmmm gimana ya gue ngomong ….”
            “ngomong apaan loe hahhh !! loe itu anak baru disini jangan bikin masalah dehh pake ngehancurin persahabatan gue lagi !” kataku sambil nunjuk-nunjuk muka Ambar.
            “kamu kenapa sih nik kok kamu nuduh-nuduh aku sebagai penghancur persahabatan kamu sama dhifa ?” kata ambar
             “kesambet setan apaan loe kok omongan loe jadi lembut gini pdahal tadi loe pake panggilan ‘gue, elo’ knapa sekarang jadi ‘aku, kamu” kataku sambil mendorongnya pelan
            Aku tak tau ternyata ketika aku mendorong Ambar ada Dhifa dibelakangku !!
            “heii apa-apaan sih loe nik, ambar gak salah apa-apa justru loe yang salah ngerti !!” kata dhifa sambil membentakku
            “loe kenapa sih dif, kok sikap loe berubah gini ke gue ? gue salah apa dif sama loe sampai-sampai loe tega giniin gue ?” kataku dan seketika itu butir-butir air mataku pun menetes
            “loe mau tau apa salah loe hahh ? loe itu munafik !! di belakang gue loe jelek-jelekin gue , bilang kalo gue suka pinjam duit loe lah yang inilah itulah ! gue malu tau nik ! gue pernah kan nolak pinjaman uang dari loe tapi apa loe tetap maksa ! setelah gue pinjam uang itu, gue juga udah balikin kan !! tapi kenapa loe bilang ke anak-anak kalo gue selalu pinjam duit loe dan nggak pernah gue balikin !! loe bener-bener orang paling jahat yang pernah gue kenal ! gue nyesel sahabatan sama loe ! ngerti !! kata dhifa sambil nangis ,.
            “apaan sih maksud loe dif ! gue gak pernah bilangseperti itu ke anak-anak! gue ini sahabat loe dif loe harus tau itu yang namanya sahabat pasti gak akan bilang seperti itu ! apalagi ngejelek-jelekin loe ! loe percaya kan sama gue” kataku dan air mataku pun menetes deras
            Ambar hanya diam melihatku dan dhifa bertengkar.
            “GAK gue gak percaya sama loe !! gue punya saksi kalo loe bilang gitu ke anak-anak sewaktu di kantin !!”
            “siapa dif, siapa anak itu ?”
            “DIA !” kata dhifa sambil menunjuk ke Ambar.
            Plakkkkkkk !!!
            Tamparanku tepat mendarat di pipi ambar !!
            “hehhh apa-apaan sih loe !! semakin percaya gue kalo loe benar-benar jahatt !” kata dhifa sambil mengusap tangisannya.
            “maaf dif, maafin gue” kataku menangis deras.
            “udahlah gak usah seperti itu! ayo mbar kita ke kelas !!” kata dhifa dan berlalu meninggalkanku sendiri !!
            ‘ya Allah dhifa kenapa kamu nggak percaya sihh sama aku ? aku ini sahabat kamu dif ! kenapa kamu lebih percaya sama orang yang baru kamu kenal’ gumamku dan air mataku pun masih terus menetes’.
            Tak terasa ternyata sudah bel pulang dan aku pun bergegas menuju ke kelas dan pulang. Di rumah aku terus berusaha meminta penjelasan dari Dhifa dengan cara sms dan telfon ke dhifa tapi tetap saja tidak dihiraukannya. Sudah 3 hari aku nggak sapaan sama dhifa, malam harinya, ada nomor yang tidak aku kenal sms aku *nik, cepat ke taman dekat rumahmu sekarang !!*
            Aku bingung kenapa orang itu menyuruhku ke taman dekat rumahku dan aku pun juga tak tau siapa pemilik nomor hp itu. Aku mondar-mandir memikirkan untuk datang atau tidak ke taman. Lalu setelah beberapa menit aku pun memutuskan untuk datang ke taman tersebut. Setelah sampai di taman aku melihat seorang cewek yang aku kenal dan sudah tidak asing lagi bagiku.
            “dhifa” kataku (ragu)
            Lalu ia berbalik ke arahku dan langsung memelukku,
            “menik maafin aku nik, aku benar-benar salah ! aku udah nggak percaya sama kamu melainkan lebih percaya sama orang yang baru aku kenal dan terhasut oleh omongannya. Aku benar-benar minta maaf nik, maafin kata-kata kasarku yang pernah aku ucapkan ke kamu, aku benar-benar menyesal nik. Ambar udah jelasin semuanya ke aku kalau omongannya semua itu bohong” kata dhifa sambil menagis.
            “udah dif, aku udah maafin kamu kok” kataku sambil tersenyum.
            “beneran udah maafin aku ?” kata dhifa sambil melepaskan pelukannya.
            “iya nadhifa aku udah maafin kok, udah jangan nagis lagi dong” kataku sambil mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
            “kamu memang sahabat terbaik yang pernah aku punya nik dan kamu adalah sahabat sejatiku”
            “aku senang kamu ngomong kayak gitu, kamu juga sahabat sejati aku dif”
            Lalu dhifa pun tersenyum dan aku membalasnya…
            “aku bisa menyimpulkan dari permasalahan kita nik, kalau kita nggak boleh gampang percaya sama orang yang baru kita kenal” kata dhifa sambil tersenyum.
            “setujuu” kataku dan kami berdua pun tertawa ….