Itulah yang sedang dirasakan oleh Kania. Dadanya terasa sangat sakit dan sesak. Hatinya tak mampu menahan rasa sakit yang terasa. Begitu perih. Air matanya tak berhenti mengalir dari matanya hingga membuat matanya membengkak. Ia tak sanggup untuk menghadapi kenyataan. Kenyataan yang sangat pahit. Kenyataan itu adalah, orang yang ia cintai kini tak mencintainya lagi. Orang tersebut kini telah melangkah menjauh. Meninggalkannya sendiri.
Kania mengangkat wajahnya. Ia mengambil sebuah
bingkai foto yang terletak di atas meja di sebelah kasurnya. Di foto tersebut
tergambar dirinya dan seseorang yang amat ia cintai yang kini tak dapat ia
gapai kembali. Air mata Kania kembali tumpah. Semua kenangan manis kembali
berputar di kepalanya. Berharap semua hal tersebut dapat terulang kembali.
“Nia, makan dulu yuk.” Terdapat suara dari
balik pintu kamar Kania. Karena tidak mendapat balasan dari Kania orang yang
berada di balik pintu itu membuka pintu. Orang tersebut adalah Tara, sahabat
Kania yang menumpang tinggal di rumah Kania.
“Nia, kamu jangan nangis terus dong, kasian mata kamu sampe bengkak gitu.” Ujar Tara sembari menghapus air mata yang mengalir di wajah Kania. “yuk kita makan dulu”
“aku gak mau makan, Ra” Nia menolak ajakan Tara dan kembali memeluk lututnya.
“Nia, gak boleh gitu…” Tara mengelus kepala Kania dengan lembut. “kalo gak makan nanti kamu sakit, jangan nyiksa diri kamu sendiri..” lanjutnya. Kemudian ia memeluk badan Kania yang jauh lebih kecil darinya.
“sakit…” terdengar sebuah isakan yang keluar dari mulut Kania. “kenapa rasanya begitu sakit Tar, aku nggak kuat..” lanjutnya. Kania membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Tara.
“Nia, kamu jangan nangis terus dong, kasian mata kamu sampe bengkak gitu.” Ujar Tara sembari menghapus air mata yang mengalir di wajah Kania. “yuk kita makan dulu”
“aku gak mau makan, Ra” Nia menolak ajakan Tara dan kembali memeluk lututnya.
“Nia, gak boleh gitu…” Tara mengelus kepala Kania dengan lembut. “kalo gak makan nanti kamu sakit, jangan nyiksa diri kamu sendiri..” lanjutnya. Kemudian ia memeluk badan Kania yang jauh lebih kecil darinya.
“sakit…” terdengar sebuah isakan yang keluar dari mulut Kania. “kenapa rasanya begitu sakit Tar, aku nggak kuat..” lanjutnya. Kania membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Tara.
“shh… nantinya juga rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya..” bisik Tara lembut. “udah, kamu jangan sedih lagi, semakin kamu bersedih, akan semakin terasa sakit” Tara mencoba untuk membuat sahabatnya tenang.
“susah tar… susah…” ujar kania masih terisak.
“udahlah Nia, cowok kayak Ricky dilupain aja, masih banyak someone else yang jauh lebih baik dari dia, yakin deh!” Tara kembali meyakinkan Kania. “ayo dong, senyum! Mana Kania yang aku kenal selalu tersenyum itu?”
Kania mengangkat wajahnya. Ia sangat terkesan dengan usaha sahabatnya itu. Tanpa disadari Kania tersenyum tipis. Ia sangat senang dengan kehadiran sahabatnya itu.
“nah gitu dong! Itu baru Kania yang ku kenal!” Tara ikut tersenyum dan memeluk Kania dengan erat.
“makasih ya Tar, kamu selalu ada buat aku” Kania balas memeluk.
“sama-sama Nia, itu kan gunanya sahabat” Tara memeluk Kania dengan erat kemudian melepaskan pelukkannya. “yuk makan sekarang”
“yuk” ujar kania tersenyum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar